Pendahuluan
Di antara deretan pegunungan megah yang menjulang tinggi di berbagai belahan dunia, satu nama berdiri paling agung: Gunung Everest. Terletak di perbatasan antara Nepal dan Wilayah Otonomi Tibet (Cina), Everest bukan hanya gunung tertinggi di dunia, tetapi juga simbol kekuatan alam dan ketangguhan manusia.
Setiap tahun, ratusan pendaki dari seluruh dunia berusaha menaklukkan puncaknya yang tertutup salju. Sebagian berhasil, sebagian harus pulang sebelum mencapai tujuan, dan sebagian lagi bahkan kehilangan nyawa. Mengapa gunung ini begitu menarik dan begitu menantang? Artikel ini akan membahas Gunung Everest secara menyeluruh—dari fakta geografis, sejarah pendakian, tantangan ekstrem yang dihadapi, hingga dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
1. Fakta Geografis: Di Mana Letak Everest?
Gunung Everest merupakan bagian dari Pegunungan Himalaya, rangkaian pegunungan tertinggi di dunia. Puncaknya terletak pada koordinat 27.9881° LU, 86.9250° BT.
Ketinggian resminya adalah 8.848,86 meter (atau sekitar 29.031,7 kaki) di atas permukaan laut, berdasarkan pengukuran terbaru tahun 2020 yang dilakukan oleh pemerintah Nepal dan Tiongkok. Angka ini sedikit berbeda dari hasil pengukuran sebelumnya, karena faktor-faktor seperti gempa bumi dan pergeseran lempeng bumi bisa memengaruhi tinggi gunung secara alami.
Nama lokalnya di Nepal adalah Sagarmatha (berarti “Kepala Langit”), sementara di Tibet dikenal sebagai Chomolungma (berarti “Dewi Ibu Dunia”). Sementara itu, nama “Everest” diambil dari Sir George Everest, seorang ahli geografi asal Inggris pada abad ke-19.
2. Sejarah Penaklukan Puncak Dunia
Sejak awal abad ke-20, Everest telah menjadi target utama para penjelajah dan pendaki. Banyak ekspedisi pertama berasal dari Inggris, namun medan ekstrem dan kondisi cuaca membuat upaya-upaya awal gagal.
Hingga akhirnya, pada 29 Mei 1953, dua orang berhasil mencapai puncak Everest untuk pertama kalinya dalam sejarah:
- Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru
- Tenzing Norgay seorang Sherpa asal Nepal
Prestasi mereka menjadi tonggak sejarah dalam dunia pendakian dan dikenang sebagai salah satu pencapaian terbesar umat manusia.
Setelah itu, ribuan pendaki mengikuti jejak mereka. Beberapa catatan luar biasa di antaranya:
- Junko Tabei (Jepang), wanita pertama yang mencapai puncak (1975)
- Reinhold Messner, pendaki pertama yang menaklukkan Everest tanpa bantuan oksigen tambahan (1978)
- Kami Rita Sherpa, pendaki dengan rekor terbanyak mencapai puncak Everest (lebih dari 28 kali hingga 2023)
3. Rute Pendakian: Nepal vs Tibet
Ada dua rute utama untuk mencapai puncak Gunung Everest:
- Rute Selatan (Nepal) – Dimulai dari Lukla dan menuju Base Camp Selatan di ketinggian 5.364 meter. Ini adalah rute paling populer karena logistik dan pendukung Sherpa lebih tersedia.
- Rute Utara (Tibet) – Lebih terpencil dan lebih dingin, dimulai dari Tibet Base Camp di ketinggian 5.150 meter. Rute ini dianggap lebih teknis dan menantang.
Keduanya memiliki titik temu di Puncak Everest, namun medan yang harus dilalui sangat berbeda, mulai dari tebing es, jurang berbahaya, hingga badai salju yang bisa datang kapan saja.
4. Tantangan Ekstrem: Menghadapi “Zona Kematian”
Bagian paling berbahaya dari Everest adalah saat memasuki “Death Zone” atau Zona Kematian, yaitu area di atas ketinggian 8.000 meter. Di zona ini, oksigen sangat tipis, tekanan udara rendah, dan suhu bisa turun hingga -40°C.
Risiko utama yang dihadapi pendaki antara lain:
- Hipoksia (kekurangan oksigen)
- Frostbite (radang dingin ekstrem)
- Avalanche (longsor salju)
- Cuaca tak terduga yang bisa membunuh dalam hitungan menit
Itulah mengapa dibutuhkan persiapan fisik, mental, dan logistik yang sangat matang untuk mencoba menaklukkan Everest.
5. Dampak Sosial dan Lingkungan
Meskipun Everest menjadi destinasi wisata petualangan yang sangat populer, hal ini juga membawa dampak negatif. Setiap musim pendakian, ribuan orang mengunjungi Base Camp, menyebabkan penumpukan sampah, limbah manusia, dan kerusakan ekosistem.
Pemerintah Nepal telah mulai menerapkan peraturan ketat:
- Setiap pendaki harus membawa turun sampahnya sendiri
- Biaya pendakian yang mahal (sekitar USD 11.000 untuk izin resmi, belum termasuk logistik)
Di sisi lain, pendakian Everest menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat lokal, terutama Suku Sherpa, yang menjadi pemandu, porter, dan penjaga rute pendakian. Namun pekerjaan ini penuh risiko dan tidak sedikit dari mereka yang kehilangan nyawa.
6. Gunung Everest di Budaya Pop dan Media
Gunung Everest sering dijadikan latar dalam film, buku, dan dokumenter. Beberapa yang paling terkenal adalah:
- Film “Everest” (2015) – Menggambarkan tragedi nyata tahun 1996 ketika badai menewaskan beberapa pendaki
- Buku “Into Thin Air” oleh Jon Krakauer – Kisah nyata yang menjadi salah satu bacaan wajib pendaki gunung
- Dokumenter National Geographic – Menyediakan pandangan mendalam tentang pendakian modern dan perubahan iklim di Everest
Penutup
Gunung Everest bukan hanya titik tertinggi di Bumi—ia adalah simbol kekuatan alam yang luar biasa dan tekad manusia untuk terus melampaui batas. Ia menjadi cermin dari keberanian, semangat, dan juga kerendahan hati kita di hadapan alam yang tak terbendung.
Bagi sebagian orang, menaklukkan Everest adalah mimpi seumur hidup. Bagi yang lain, itu adalah pelajaran berharga bahwa ketinggian bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal bagaimana kita memahami alam, menghormatinya, dan menjaga keseimbangannya.
